Minggu, 23 Juni 2013

When (Ketika)
Part. 8
Oleh: Rendy Prasetyo

            Kesendirian, perasaan itu kembali Rey rasakan saat ini ketika ia harus kehilingan orang-orang terdekatnya, pertama dia harus kehilangan kekasihnya yang telah bersamanya selama kurang lebih 4 tahun,yaitu Tania, kemudian  Rey juga harus kehilangan wanita yang ia sukai yaitu Reska dan seorang wanita yang sangat tulus mencintainya walaupun dengan jarak yang sangat jauh, yaitu Sovia, dan setelah itu semua, hal yang mungkin sangat menyakitkan adalah, Rey harus kehilangan sahabat baiknya yaitu Tamma, Rey harus kehilangan sosok sahabat sekaligus kakak yang baik baginya karena Tamma lebih memilih wanita yang ia sayangi di bandingkan memilih sahabatnya yaitu Rey. Karena saat ini Rey hanya sendirian, satu-satunya kawan dekatnya adalah buku dan pena saja dimana Rey bisa menggambar dan menulis sebuah cerita yang ia tulis sendiri, serta komputer perpustakaan tempatnya menulis hasil ceritanya untuk di sebarkan di dunia maya, dengan harapan agar cerita-ceritanya bisa di baca semua orang di seluruh dunia.hari-hari Rey hanya di isi dengan elajar di kampus,pergi ke perpustakaan untuk menulis ceritanya,pulang kerumahnya dan beribadah saja, semua terasa membosankan, tanpa ada hal yang baru. Suatu hari di kampus, Rey sedang berjalan menuju perpustakaan untuk memulai menulis ceritanya lagi, tidak di sengaja Rey bertemu sahabat lamanya yaitu Tamma yang sedang bersendagurau dengan kekasihnya, Rey pun mencoba manyapa Tamma dengan mendatanginya, “Hey tama apa kabar lo? Lama nggak ketem…..”, sapa Rey sambil menjulurkan tangan kanannya. Belum selesai Rey berbicara Tammapun pergi meninggalkan Rey dengan wajah ketusnya. “sekarang Tamma udah bukan Tamma sahabat sekaligus kakak yang gue kenal dulu, sekarang dia beda, seakan udah nggak kenal lagi sama gue”, bisik Rey dalam hatinya dengan perasaan yang sangat sedih tergambar di wajahnya. Hari-hari Rey terasa semakin hampa dengan tidak adanya canda dan gelak tawa yang ia rasakan seperti sebelumnya, saat ini hanya kesunyian, kesendirian , dan kesedihan yang dapat Rey rasakan. Rey merasakan sangat sepi dan sendiri tanpa ada yang menemani, hari-hari Rey seakan seperti sebuah bilan tanpa pacahya bintak=ng yang menyinari, dan bagaikan sebuah pelangi hanya dengan satu warna saja, semua seperti kosong dan tak indah lagi.
            “Ya Allah, kenapa sekali lagi kau berikan ujian yang berat kepada hamba  Ya Allah,hamba mohon kuatkan lah hati dan iman hamba untuk melewati ujianmu, dan berikanlah hamba jalan keluar dari segala ujianmu Ya Allah. Sesungguhnya hanya enkaulah yang mengerti is hati hamba , karena engkaulah yang menciotakan hamba. Ya Allah Ya Tuhanku hilangkanlah kesedihanku dan kembalikanlah kebahagiaanku seperti sedia kala. Ya Allah Ya Tuhamku, kabulkanlah doa hambamu yang pentuh dosa dan kesalahan ini ya allah, amin, amin, amin, Ya Robbal’alamin”, begitulah bunyi doa yang selalu Rey panjatkan ketika ia selesai sholat. Hari hari Rey pun terus berlanjut, namun belum ada pintu jawaban dari doa yang selalu Rey panjatkan, namun Rey tidak pernah lelah dan berhenti untuk terus berdoa dan berharap, Rey percaya “ Tuhan tidak akan membiarkan umatnya untuk hidup sendiri,”, dan Rey pun terus percaya, walaupun saat ini dia sendiri , teteap ada Tuhan yang akan selalu menemani setiap hari dan langkahnya, dan tuhan pun pasti akan mengabulkan doa-doa yang ia inginkan.
            Rey terus melewati hari harinya hanya seorang diri, namun Rey terus meyakinkan pada dirinya bahwa “Tuhan tidak akan membiarkan makhluk yang ia ciptakan hidup sendirian di dunia ini, terutama manusia, karena pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, dan tidak akan pernah bisa hidup sendiri”, hingga suatu hari Rey pergi untuk menjalankan sholat jum’at di masjid tempatnya bersekolah di sekolah SMA dulu. Selesai menjalan kan sholat jum’at dan berdoa kepada Allah rey pun keluar dari masjid, dan tak disangka sangka  seperti sebuah pintuk terang telah Tuhan bukakan untuk Rey di hadapannya, tak di sangka oleh Rey, dia melihat 2 orang sedang duduk berbincang sambil bercanda riang gembira di tribun samping lapangan sekolah SMAnya dulu. Dan sambil tersenyum lebar melihat mereka, Rey pun mencoba melangkahkan kakinya untuk menghampiri tempat dimana 2 orang tersebut sedang duduk.
(TO BE CONTINUED)

Senin, 13 Mei 2013


When (Ketika)
Part. 7
Oleh: Rendy Prasetyo

        Perlahan waktu pun berlalu, ketika malam berganti pagi, dan bulan meninggalkan bintang bintang di angkasa, perasaan dan pikiran Rey yang hancur menjadi serpihan perlahan-lahan menyatu menjadi satu bagian, namun tidak semua serpihan itu dapat tersatukan kembali, banyak kenangan yang tak terlupakan, namun Rey tidak kembali pada keadaannya yang lalu, yang hanya terdiam dan selalu merenung, tetapi Rey terus berusaha agar bisa kembali pada jati dirinya sendiri dengan mengingat ucapan dari Tamma, “kalo lo sakit dan terluka karna cinta, ya obat lo itu juga cinta Rey”, dan Rey tidak sendiri, ia di bantu sahabat baiknya yaitu Tamma. Hari – hari Rey di isi dengan kebahagiaan serta “kegilaan” ketika pergi untuk bersenang-senang bersama sahabat karibnya, agar Rey bisa melupakan semua kejadian lalu yang telah membuatnya pataha hati. Suatu ketika, Tamma secara-tiba tiba menjauh dari Rey, Rey pun merasa bingung, apa yang telah terjadi dengan sahabatnya, Rey pun bertanya pada dirinya sendiri, “ ada apa sama Tamma tiba-tiba ngilang dan nggak tauu kemana, setiap kelas udah selesai pasti dia langsung cabut, apa ada yang sala yang gue buat sama dia ya?”. Masih bingun dengan perubahan Tamma yang secara tiba-tiba Rey pun berusaha menelpon Tamma dan mengajaknya untuk pergi “ hallo tam, ayo kluar kaya biasanya kita ngopi-ngopi, sekarang gantian deh gue yang teraktir lo?”, dan Tamma pun menjawab telpon rey dengan nada yang ragu “ehhhm, gimana ya Rey, ehhhmm gue udah ada janji sama cewe buat keluar makan malem bareng”, dan Reypun tertawa dengan senang “ hahaha wiiihhh sekarang lagi pdkt sama cewe ni ya, ini toh yang bikin lo cepet – cepet balik tiap kelas udah kelar? Anak mana tu cewe Tam?”tanya Rey di telpon. “iya rey tiap balik kelas gue pergi sama dia, dia anak 1 kampus sama kita, namanya puteri, tapi dipanggil puput, Rey”, jelas tama. “ wih selamet bro, akhirnya ada juga yang mau sama lo, dan lo siap-sap dulu sana dandan yang ganteng semprot parfum juga, biar ganteng lo, masalahnya bau lo kaya kambing bau beranak, hahaha” canda Rey. “ hahaha sial lo Rey, gue belom jadian ini malah udah di selametin, tapi amindeng, haha, yaudah gue siap siap dulu deh, eh bentar lo bilang gue apa tadi? Setan lo, haha”, Tamma pun menyaut dengan bercanda, dan merekapun  menutup telpon mereka.
                Suatu hari ketika Rey sedang menggambar di meja halaman kampusnya, tiba-tiba Tama datang dan mengejutkan Rey dengan memberi kabar padanya, “woy Rey !”, Tamma mengejutkan sambil berteriak. “damn ! bikin kaget gue lo, kecoret ni gambaran gue”, protes Rey dengan wajah kesalnya.”hahah maap maap, bencanda gue. EH lo tau pupu yang dulu gue ceritaun kan ?!”, tanya Tamma dengan senyum lebarnya. “iya iya, gebetan lo itu kan, kenapa emang?”, saut Rey. “lo tau, Gue baru jadian sama dia, dan tadi baru banget gue tembak Rey”, jelas Tamma. Reypun terkejut “ Seriusdan lo?! Congrats bro, kasian banget si puput tu, matanya kelilipan lidi sate tu pasti haha”, canda Rey. “wah songon lo! Hahaha eh iya ayo ntar malem makan di cafe biasanya, gue traktir, itun itung bagi bag rejeki sama lo supaya nggak jomblo lagi”, ajak Tama sambil bercanda. “sip deh makan enak ni ntar malem gue, dah ah gue bentar lagi masuk in, ayo kekelas”, ajak Rey sambil membereskan barang bawaannya, dan mereka pergi menuju kelas mereka. Tak di sangka malam kerika Tamma mentraktir Rey adalah malam terakhir bagi persahabatan mereka, suatu hari Rey mencoba menelpon Tamma “ ayo Tam keluar pengen ngopi gue, suntuk di rumah sendirian ?”, ajak Rey. “nggak ah Rey lagi males gue”, jawab Tamma. “kok tumben males lo Tam, akhir akhir ini kok lo g pernah bisa nongkrong mulu Tam sama gue? Gue bikin salah sama lo atao ada yang gue lakuin yang bikin lo beda Tam?gue minta maaf deh? ”, tanya Rey. “ sorry Rey, gue udah nggak bisa lagi temenan sama lo Rey, cewe gue nyuruh gue manjauh dari lo, karna lo freak Rey, kata cewe gue lo yang ada ganggu waktu gue sama cwe gue sepenuhnya, jadi gue minta maaf Rey, mulai saat ini selama gue masih sama puput gue g bisa lagi ketemu lagi, tut tut tu.......” jawab Tamma dan kemudian menutup telpon dari Rey. Rey pun terkejut mendengar kata kata-kata yang tidak disangka bisa keluar dari mulut Tamma. Keesokan harinya di kampus, Rey berpapasan dengan Tamma yang sedang menggandeng puput, dan rey mencoba menyapa Tamma, “Hey Tam?”. Namun Tamma tak merespon dan pergi melewati Rey seakan mereka tidak pernah kenal sebelumnya. Hari terus berjalan, dan sudah 3 bulan Tamma tetap berubah dan seakan tidak ingin mengenal Rey lagi karena suruhan dari puput , yaitu kekasih baru Tamma. Rey mulai menyadari dan berbicara dalam dirinya “ ternyata benar dinding persahabatan seorang pria bisa berubah dan hancur ketika telah di pukul dengan pemukul besar yaitu “harta, tahta,dan wanita”, dan walaupun Tamma sudah berubah, dia tetap sahabat terbaikku, karena dialah aku jadi bisa bangkit ketika aku patah hati”.

(TO BE CONTINUED)

Senin, 29 April 2013


When (Ketika)
Part. 6
Oeh: Rendy Prasetyo

           “Ayo lah Rey cerita sama gue, sahabat lo, siapa tau dengan lo cerita ke gue, lo baka bisal jauh lebih tenang”, bujuk Tamma dengan penasaran. “gue nggak apa apa tam” jawab Rey dengan wajah memelas, “ alah jangan boong lo, gue tau lo, kita udah temenan hampir 3 tahun, kalo lo lagi mesti ada apa, nggak mungkin kalo nggak ada apa-apa”,tanya Tamma, Rey pun hanya terdian membisu tanpa kata, dengan penasaran Tamma tetap kembali bertanya pada Rey,”jangan diem aja Rey gue tau lo ada masalah, tadi aja pas gue tanya lo Cuma jawab sedikit lemes pula jawabnya, terus pas tadi di kelas ada kuis lo gue perhatiin Cuma diem lesu gitu, cerita lah ke gue?”, paksa Tamma. Dengan menarik nafas panjang akhirnya Rey pun bercerita kepada Tamma, “oke gue coba cerita sama lo tam, lo udah tau kan cerita tentang hubungan antara gue, Reska dan Sovia....?”.”iya iya gue ngerti terus terus kenpa?” potong Tamma. “bentar gue cerita dulu jangan main lo potong” balas Rey. “sorry sorry gue penasaran sih Rey, lanjut deh”, kata Tamma. Dan akhirnya Rey pun melanjutkan ceritanya kepada Tamma, “ gini Tam, gue merasa sangat bodoh dan menyesal gara-gara hubungan yang gue jslsnii antara gue, Reska, dan Sovia, secara singkatnya ketika gue sedang serius sama sovia dan ingin melanjutkan hubungan serius dengannya, gue masih merasa ragu karna jarak kita yang terlalu jauh Tam, jogja ke tangerang itu lebih jauh dari jogja ke jakarta, gue masih takut Tam hubungan jarak jauh, gue masih keinget tentang hubungan gue sama Tania yang nggak bisa berlanjut karena jarak kita Tam” jelas Rey. “terus terus gimana lagi Rey?” tanya Tama dengan wajah yang serius dan penasaran. “pernah sovia nanya soal kepastian hubungan gue dengannya , dan gue bilang gue belom siap untuk hubungan jarak jauh lagi,selain karna itu, gue juga sebenernya lagi deket sama cewe yang tinggal di jogja namanya sekar” jelas Rey. “jadi di saat lo lagi deket sama sovia lo deketin cewe lain juga gitu? Parah lo Rey”, saut Tamma dengan terkejut, Rey pun memotong tanggapan dari Tamma “ bukan gitu Tam, tapi gue d kenalin temen gue, gue lanjutin ceritanya deh, dan ketika gue melepas sovia yang benar benar sayang sama gue dan lebih memilih reska untuk gue kerjar, ternyata reska udah di milikin sama cowo lain dan pada akhirnya, gue kehilangan mereka berdua, nggak ada saru pun yang gue dapetin Tam, gue ngerasa sangat bodoh melepas seorang wanita yag tulus bener bener sayang sama gue dan malah memilih jalan yang salah untuk mengejar ketidak pastian”, kata Rey sambil memelas dan bersedih. “Rey dengan semua kejadian yang lo dapatkan, nggak seharusnya lo sedih berkelanjutan, lo masih punya kehidupan yang harus lo jalanin, kehidupan lo bukan berakir d sini seiring dengan kisah cinta lo, lo boleh sedih, kecewa, menyesal, atau apa lah itu tapi jangan sampai lo “tenggelam di dalam itu semua”, kalo lo udah tenggelam lo nggak akan bisa apa apa selain menunggu “kematian”, tegas Tama sambil menepuk pundak Rey.”maksud lo apa Tam?” tanya Rey Dengan muka yang masih memelas. “maksud gue , lo boleh sedih tapi jangan berkelanjuta, kalo lo terus terusan begini yang ada lo cuma merusak tubuh lo dan hari hari di kehidupan lo, lo haus bangkit Rey!” jawab Tamma dengan tegas. Namun Rey masih tampak memelas, “tapi gue masih sedih dan terpukul Tam” jelas Rey. Tama pun dengan serius meyakinkan Rey agar bisa bangkit kembali, “ gue tau perasaan lo pasti sakit banget saat ini, tapi percaya sama gue setiap rasa sakit pasti akan ada obatnya suatu saat nanti, kalo lo sakit dan terluka karna cinta, ya obat lo itu juga cinta Rey” tegas Tama. Rey pun hanya terdiam dan memandang mata Tamma. Dan Tamma terus melanjutkan nasihatnya, “gue yakin orang baik kaya lo pasti akan dapet wanitawanita yang baik juga Rey, tapi nggak dengan cara diem, merenung dan terus menyesal kaya gini Rey, lo harus bangkit dan berdiri, jadiin semua penyesalan lo itu menjadi pembelajaran buat lo, masih banyak yang sayang sama lo Rey contohnya, nyokap, gue, sahabat-sahabat lo, temen-temen lo, dan lainnya Rey, gue harap lo bisa pahamin ini rey”, kata Tamma sambil menepuk pundak rey lagi, dan Rey pun terlihat lembaik dengan ekspresi wajah yang tidak kaku dan lesu lagi, Tamma pun tersenyum melihat Rey mulai memahami nasihat darinya.  Melihat Rey mulai berpikir Tamma pun mengajak Rey untuk pergi, “haha muka lo lucu Rey kalo sok mikir gitu ! udah jangan di pikirn lagi kisah lo itu,nanti cepet mati lo, kalo lo mati gue ntar nggk punya temen unik nan blo’on kaya lo lagi Rey, dah yok pergi ke warung sami asih laper gue,ntar gue bayarin deh lo?”ajak Tamma sambil bercanda dan menarik Rey dari tempat duduknya. Rey pun mulai tersenyum mendengar banyolan dari Tamma dan ikut pergi bersama Tamma.

(TO BE CONTINUED)

Minggu, 07 April 2013

When (Ketika)
Part. 5
Oleh: Rendy Prasetyo

                Setelah kejadian antara Rey dan Sovia yang lalu, hari demi hari Rey lalui dengan kesedihan dan penyesalan yang mendalam, Rey selalu merasa bodoh dan selalu menyalahkan dirinya karena telah membiarkan cinta tulusnya pergi jauh dan meninggalkannya. “seandainya pada waktu itu pikiran bodoh ku tidak menguasai otakku ini, semua ini tak akan terjadi, dan mungkin saat ini Sovia sudah menjadi milikku dan menemani hari-hariku, betapa bodohnya aku, TUHAN MENGAPA SEMUA INI HARUS TERJADI PADAKU !”, begitulah kalimat yang selalu ada dalam benak Rey saat ini. Di depan sahabat-sahabatnya mungkin Rey terus menunjukan senyuman dan gelak tawanya, namun di balik itu semua Rey masih terpukul dan selalu mencoba untuk bisa mengebalikan hari-hari indahnya seperti biasa yang penuh keceriaan dan kebahagiaannya, namun Rey masih belum bisa melupakan semua kejadian yang membuatnya terpukul, Rey merasa seakan ada yang telah hilang dari dirinya.
                Karena saat ini Rey hampir memasuki semester akhir kuliahnya, walaupun keadaannya sedang tidak baik, mau tidak mau Rey tetap harus berangkat kuliah demi targetnya agar dapat lulus kuliah dalam waktu tiga tahun setengah. Suatu hari, masih dengan suasana hati yang kelam, Rey terpaksa berangkat menuju kampusnya, karen pada hari itu akan ada kuis yang sangat berpengarun dengan bagi nilai semestenya. Ketika kuis sudah di mulai, Rey hanya diam melihat ke arah kertas kuisnya dengan tatapan yang kosong, dan terlihat lesu tak bersemangat, menyadari kegelisahan Rey, teman baik Rey yaitu Tamma melihat ke arah Rey yang duduk di depan Rey dan bertanya kepada Rey dengan suara yang pelan , “Rey. Are you ok? Kenapa lo jadi diem gini sekarang? Lo ada masalah?”, namun Rey hanya terdiam sambil menulis beberapa jawaban di kertas kuisnya, tamma pun bimgumg dan hanya terdiam, lalu kembali mengerjakan kuisnya.
                Kelas pun telah berakhir, dengan sangat lesu Rey menaruh lembar jawaban miliknya di meja dosen, dan keluar meninggalkan kelasnya sendiri. Sambil berlari Tamma mengejar langkah lemas Rey  dan menepuk pundak Rey dari belakang, “kenapa lo Rey? Kok gue liat dari tadi lo diem aja nggak kaya biasanya?”, tanya Tamma sambil merangkul pundak Rey, Rey pun terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Tamma. “Kebanyakan mikir lo? Udah ikut gue sekarang” ajak Tamma sambil menarik Rey. Merekapun tiba di bangku taman kampus tempat biasa Tamma, Rey dan teman temannya berkumpul dan bercanda, serta tempat Rey bercerita tendang kisah cintanya kepada teman temannya, lalu Tamma meninggalkan Rey sebentar untuk membali minuman. Kembalinya Tamma setelah membeli minuman, Tamma kembali bertanya pada Rey sambil memberikan minuman pada Rey, “aneh lo Rey, tiba-tiba aja kok jadi berubah, lo ada masalah apa? Cerita sama gue, apa jangan jangan gara-gara si Sovia dan Reska lo jadi gini”, paksa Tamma. Mendengar nama Reska dan Sovia Reypun semakin lemas dan menundukan , meliuhat hal itu Tamma sudah merasa kalau Rey memang sedang ada masalah dalam percintaannya, “ fine ! gue udah tau sekarang apa yeng menyebabkan lo jadi aneh gini, sekarang lo cerita sama gue Rey, jangan diem aja, siapa tau bisa bantu lo, lo itu sahabat gue Rey ! ” gertak Tamma. dan akhirnya dengan lemas Rey pun bercerita kepada Tamma tentang masalah yang ia alami sehingga mmebuatnya berubah aneh seperti saat ini.

(TO BE CONTINUED)

Rabu, 06 Maret 2013

When (Ketika)
Part. 5
Oleh: Rendy Prasetyo
 


         Suatu hari tiba-tiba tanpa di sangka oleh Rey pada tengah malam, Sovia menelpon Rey "hallo rey”, rey pun menjawab telpon dari Sovia “iya hallo Vi, tumben kamu nelpon malem malem gini, biasanya kamu nggak bisa tidur, lagi ada pikiran ya?”, dengan sedikit ragu akhirnya Sovia pun menjelaskan kepada Reno kenapa Sovia menelpon pada tengah malam, “iya Rey, jujur aku merasa kamu mulai berbeda ....” belum selesai bicara, omongan Reska di potong oleh Rey sambil bercanda “loh beda gima Vi? Aku nggak berbeda kok, aku masih Rey yang dlu, aku kan belom berubah jadi baja hitam, hehehe”,  dengan nada tegas Sovia melanjutkan omongan “ Rey  aku serius ! kamu mulai berbeda, kamu udah jarang hubungi aku, selalu sibuk kalo aku hubungi, di jejearing socialpun juga kamu nggka pernah jawab pesan dari aku. Kamu bukan seperti Rey aku kenal dulu, sekarang kamu seperti perlahan menjauh dari aku" , “loh kok kamu ngomong kaya gitu Vi?, aku masih tetap sama kamu kok, aku nggak kemana kemana” jawab Rey dengan bingung, “kl kmu tetap sama aku kenapa akhir-akhir ini aku liat di jejarin sosialmu kamu sangat akrab dan intens dengan wanita yang bernama Reska, siapa dia sebenarnya? Apa dia kekasihmu? Kalau dia kekasihmu lalu aku siapamu? Apa kamu tidak menganggap hubungan kita selama ini?” dengan berlinang air mata, dan dengan nada yang terputus-putus Sovia mencoba menjelaskan dan bertanya kapada Rey. Dengan bingung Rey pun menyangkal “Reska adalah teman yang di kenalkan oleh teman satu kampusku via tolong kamu percaya sama aku, aku tidak ada apa-apa dengannya”, namun Sovia tetap tidak percaya dengan penjelasan dari Rey, “ kalau kamu memang tidak ada hubungan spesial sedikitpun dengan Reska kenapa kalian saling memanggil dengan sebutan sayang “prince and princess”, sambil menangis Sovia terus memaksa Rey untuk mengakui perbuatannya,Rey pun bingung harus bagaimana, lalu dengan nada tegas Sovia menanyakan sebuah pertanyaan yang benar-benar membuat Rey sangat terkejut,” Rey aku minta ke pastian siapa aku sebenarnya buat kamu? Aku taku dan nggak mau Rey untuk kehilangan kamu, aku sayang banget sama kamu Rey, walaupun jarak yang sangat jauh memisahkan kita, tapi aku nggak peduli sama sekali, aku minta kepastian itu sekarang Rey”. Rey pun semakin bingung dan frustasi jawaban apa yang harus di berikan pada Sovia, memilih Sovia untuk menjadi kekasihnya namun dengan jarak yang sangat jauh seperti waktu berhubungan dengan Tania atau menolak Sovia untuk menjadi kekasihnya dan tetap mengejar Reska walaupun kepastian untuk mendapatkan nya belum pasti,namun dengan jarak yang dekat karena sama-sana tinggal di Yogyakarta. Rey akhirnya meminta waktu untuk menjawab pertanyaan Sovia “ aku belum bisa jawab sekarang Vi, aku harus pikirkan ini lebih matang lagi, besok aku hubungin kamu lagi, bye Vi, good night,Tut tut tut.....” Rey pun mengakhiri telponnya. 
Keesokan harinya, Rey sudah memastikan jawaban apa yang akan di berikan ke pada Sovia, Rey pun segera menghubungi Sovia, “Hallo Sovia , aku sudah memastikan dengan matang tentang jawaban dari pertanyaan yang kamu kasih ke aku kemarin....” tegas Rey, “jadi apa jawabannya Rey?” tanya Sovia dengan nada pelan. ”demi kebaikan kita satu-sama lain sebaiknya kita untuk saat ini hanya berteman saja, karena jujur aku masih takut dan trauma dengan kejadian sewaktu masih bersama mantan kekasihku yang memilih pria lain di saat kami berbungan jarak jauh”,jelas Rey dengan sedikit menyesal atas pilihannya, dan dengan berat hati dan sambil menangis Sovia  hanya mengucapkan satu kalimat terakhir “goodbye Rey” dan Sovia menutup telpon dari Rey. Tanpa sepengetahuan Sovia, Reypun memutuskan untuk meneruskan mengejar dan mendapatkan hati Reska. Seminggu pun berlalu setelah Rey memutuskan untuk terus mengejar Reska, dan ketika Rey sedang melihat jejaring sosial milik Reska, ternyata Reska baru saja dimiliki oleh seorang pria dan merekapun menjalin hubungan dan merubas status lajangnya menjadi berpacaran, seketika Rey menyesal dan merenung karena tidak memilih Sovia yang jelas dan pasti tulus untuk mencintai diri Rey apa adanya. Semakin hari penyesalan Rey pun semakin besar, dan Rey mencoba untuk menghubungi kembali Sovia, namun usaha Rey sia-sia karena Sovia sudah benar-benar membenci Rey, sampai akhirnya Sovia tidak lagi ingin mengangkat telpon ataupun menjawab pesan dari Rey, dan juga enggan untuk menelpon maupun mengirim sms kepada Rey, dan Rey pun hanya bias menyesal dan menyesal karena mengambil yang salah. Rey pun saat ini selain Menyesal atas perbuatan dan keputusannya dia hanya bisa mengambil nilai serta pelajaran dari kejadian ini bahwa “tak selamanya sebuah cover buku bisa mewakili isi dari buku tersebut”. Dan pada akhirnya Rey pun tidak mendapat salah satu dari mereka.Namun perjalanan kisah cinta Rey belum berakhir sampai disini........

(TO BE CONTINUED)