When
(Ketika)
Part.
7
Oleh: Rendy Prasetyo
Oleh: Rendy Prasetyo
Perlahan waktu pun berlalu, ketika
malam berganti pagi, dan bulan meninggalkan bintang bintang di angkasa,
perasaan dan pikiran Rey yang hancur menjadi serpihan perlahan-lahan menyatu
menjadi satu bagian, namun tidak semua serpihan itu dapat tersatukan kembali,
banyak kenangan yang tak terlupakan, namun Rey tidak kembali pada keadaannya
yang lalu, yang hanya terdiam dan selalu merenung, tetapi Rey terus berusaha
agar bisa kembali pada jati dirinya sendiri dengan mengingat ucapan dari Tamma,
“kalo lo sakit dan terluka karna cinta, ya obat lo itu juga cinta Rey”, dan Rey
tidak sendiri, ia di bantu sahabat baiknya yaitu Tamma. Hari – hari Rey di isi
dengan kebahagiaan serta “kegilaan” ketika pergi untuk bersenang-senang bersama
sahabat karibnya, agar Rey bisa melupakan semua kejadian lalu yang telah
membuatnya pataha hati. Suatu ketika, Tamma secara-tiba tiba menjauh dari Rey,
Rey pun merasa bingung, apa yang telah terjadi dengan sahabatnya, Rey pun
bertanya pada dirinya sendiri, “ ada apa sama Tamma tiba-tiba ngilang dan nggak
tauu kemana, setiap kelas udah selesai pasti dia langsung cabut, apa ada yang
sala yang gue buat sama dia ya?”. Masih bingun dengan perubahan Tamma yang
secara tiba-tiba Rey pun berusaha menelpon Tamma dan mengajaknya untuk pergi “
hallo tam, ayo kluar kaya biasanya kita ngopi-ngopi, sekarang gantian deh gue
yang teraktir lo?”, dan Tamma pun menjawab telpon rey dengan nada yang ragu
“ehhhm, gimana ya Rey, ehhhmm gue udah ada janji sama cewe buat keluar makan
malem bareng”, dan Reypun tertawa dengan senang “ hahaha wiiihhh sekarang lagi
pdkt sama cewe ni ya, ini toh yang bikin lo cepet – cepet balik tiap kelas udah
kelar? Anak mana tu cewe Tam?”tanya Rey di telpon. “iya rey tiap balik kelas
gue pergi sama dia, dia anak 1 kampus sama kita, namanya puteri, tapi dipanggil
puput, Rey”, jelas tama. “ wih selamet bro, akhirnya ada juga yang mau sama lo,
dan lo siap-sap dulu sana dandan yang ganteng semprot parfum juga, biar ganteng
lo, masalahnya bau lo kaya kambing bau beranak, hahaha” canda Rey. “ hahaha
sial lo Rey, gue belom jadian ini malah udah di selametin, tapi amindeng, haha,
yaudah gue siap siap dulu deh, eh bentar lo bilang gue apa tadi? Setan lo,
haha”, Tamma pun menyaut dengan bercanda, dan merekapun menutup telpon mereka.
Suatu hari ketika Rey sedang
menggambar di meja halaman kampusnya, tiba-tiba Tama datang dan mengejutkan Rey
dengan memberi kabar padanya, “woy Rey !”, Tamma mengejutkan sambil berteriak.
“damn ! bikin kaget gue lo, kecoret ni gambaran gue”, protes Rey dengan wajah
kesalnya.”hahah maap maap, bencanda gue. EH lo tau pupu yang dulu gue ceritaun
kan ?!”, tanya Tamma dengan senyum lebarnya. “iya iya, gebetan lo itu kan,
kenapa emang?”, saut Rey. “lo tau, Gue baru jadian sama dia, dan tadi baru
banget gue tembak Rey”, jelas Tamma. Reypun terkejut “ Seriusdan lo?! Congrats
bro, kasian banget si puput tu, matanya kelilipan lidi sate tu pasti haha”,
canda Rey. “wah songon lo! Hahaha eh iya ayo ntar malem makan di cafe biasanya,
gue traktir, itun itung bagi bag rejeki sama lo supaya nggak jomblo lagi”, ajak
Tama sambil bercanda. “sip deh makan enak ni ntar malem gue, dah ah gue bentar
lagi masuk in, ayo kekelas”, ajak Rey sambil membereskan barang bawaannya, dan
mereka pergi menuju kelas mereka. Tak di sangka malam kerika Tamma mentraktir
Rey adalah malam terakhir bagi persahabatan mereka, suatu hari Rey mencoba
menelpon Tamma “ ayo Tam keluar pengen ngopi gue, suntuk di rumah sendirian ?”,
ajak Rey. “nggak ah Rey lagi males gue”, jawab Tamma. “kok tumben males lo Tam,
akhir akhir ini kok lo g pernah bisa nongkrong mulu Tam sama gue? Gue bikin
salah sama lo atao ada yang gue lakuin yang bikin lo beda Tam?gue minta maaf
deh? ”, tanya Rey. “ sorry Rey, gue udah nggak bisa lagi temenan sama lo Rey,
cewe gue nyuruh gue manjauh dari lo, karna lo freak Rey, kata cewe gue lo yang
ada ganggu waktu gue sama cwe gue sepenuhnya, jadi gue minta maaf Rey, mulai
saat ini selama gue masih sama puput gue g bisa lagi ketemu lagi, tut tut
tu.......” jawab Tamma dan kemudian menutup telpon dari Rey. Rey pun terkejut
mendengar kata kata-kata yang tidak disangka bisa keluar dari mulut Tamma.
Keesokan harinya di kampus, Rey berpapasan dengan Tamma yang sedang menggandeng
puput, dan rey mencoba menyapa Tamma, “Hey Tam?”. Namun Tamma tak merespon dan
pergi melewati Rey seakan mereka tidak pernah kenal sebelumnya. Hari terus
berjalan, dan sudah 3 bulan Tamma tetap berubah dan seakan tidak ingin mengenal
Rey lagi karena suruhan dari puput , yaitu kekasih baru Tamma. Rey mulai
menyadari dan berbicara dalam dirinya “ ternyata benar dinding persahabatan
seorang pria bisa berubah dan hancur ketika telah di pukul dengan pemukul besar
yaitu “harta, tahta,dan wanita”, dan walaupun Tamma sudah berubah, dia tetap
sahabat terbaikku, karena dialah aku jadi bisa bangkit ketika aku patah hati”.
(TO
BE CONTINUED)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar