Minggu, 07 April 2013

When (Ketika)
Part. 5
Oleh: Rendy Prasetyo

                Setelah kejadian antara Rey dan Sovia yang lalu, hari demi hari Rey lalui dengan kesedihan dan penyesalan yang mendalam, Rey selalu merasa bodoh dan selalu menyalahkan dirinya karena telah membiarkan cinta tulusnya pergi jauh dan meninggalkannya. “seandainya pada waktu itu pikiran bodoh ku tidak menguasai otakku ini, semua ini tak akan terjadi, dan mungkin saat ini Sovia sudah menjadi milikku dan menemani hari-hariku, betapa bodohnya aku, TUHAN MENGAPA SEMUA INI HARUS TERJADI PADAKU !”, begitulah kalimat yang selalu ada dalam benak Rey saat ini. Di depan sahabat-sahabatnya mungkin Rey terus menunjukan senyuman dan gelak tawanya, namun di balik itu semua Rey masih terpukul dan selalu mencoba untuk bisa mengebalikan hari-hari indahnya seperti biasa yang penuh keceriaan dan kebahagiaannya, namun Rey masih belum bisa melupakan semua kejadian yang membuatnya terpukul, Rey merasa seakan ada yang telah hilang dari dirinya.
                Karena saat ini Rey hampir memasuki semester akhir kuliahnya, walaupun keadaannya sedang tidak baik, mau tidak mau Rey tetap harus berangkat kuliah demi targetnya agar dapat lulus kuliah dalam waktu tiga tahun setengah. Suatu hari, masih dengan suasana hati yang kelam, Rey terpaksa berangkat menuju kampusnya, karen pada hari itu akan ada kuis yang sangat berpengarun dengan bagi nilai semestenya. Ketika kuis sudah di mulai, Rey hanya diam melihat ke arah kertas kuisnya dengan tatapan yang kosong, dan terlihat lesu tak bersemangat, menyadari kegelisahan Rey, teman baik Rey yaitu Tamma melihat ke arah Rey yang duduk di depan Rey dan bertanya kepada Rey dengan suara yang pelan , “Rey. Are you ok? Kenapa lo jadi diem gini sekarang? Lo ada masalah?”, namun Rey hanya terdiam sambil menulis beberapa jawaban di kertas kuisnya, tamma pun bimgumg dan hanya terdiam, lalu kembali mengerjakan kuisnya.
                Kelas pun telah berakhir, dengan sangat lesu Rey menaruh lembar jawaban miliknya di meja dosen, dan keluar meninggalkan kelasnya sendiri. Sambil berlari Tamma mengejar langkah lemas Rey  dan menepuk pundak Rey dari belakang, “kenapa lo Rey? Kok gue liat dari tadi lo diem aja nggak kaya biasanya?”, tanya Tamma sambil merangkul pundak Rey, Rey pun terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Tamma. “Kebanyakan mikir lo? Udah ikut gue sekarang” ajak Tamma sambil menarik Rey. Merekapun tiba di bangku taman kampus tempat biasa Tamma, Rey dan teman temannya berkumpul dan bercanda, serta tempat Rey bercerita tendang kisah cintanya kepada teman temannya, lalu Tamma meninggalkan Rey sebentar untuk membali minuman. Kembalinya Tamma setelah membeli minuman, Tamma kembali bertanya pada Rey sambil memberikan minuman pada Rey, “aneh lo Rey, tiba-tiba aja kok jadi berubah, lo ada masalah apa? Cerita sama gue, apa jangan jangan gara-gara si Sovia dan Reska lo jadi gini”, paksa Tamma. Mendengar nama Reska dan Sovia Reypun semakin lemas dan menundukan , meliuhat hal itu Tamma sudah merasa kalau Rey memang sedang ada masalah dalam percintaannya, “ fine ! gue udah tau sekarang apa yeng menyebabkan lo jadi aneh gini, sekarang lo cerita sama gue Rey, jangan diem aja, siapa tau bisa bantu lo, lo itu sahabat gue Rey ! ” gertak Tamma. dan akhirnya dengan lemas Rey pun bercerita kepada Tamma tentang masalah yang ia alami sehingga mmebuatnya berubah aneh seperti saat ini.

(TO BE CONTINUED)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar