When (Ketika)
Part. 5
Oleh: Rendy Prasetyo
Setelah kejadian
antara Rey dan Sovia yang lalu, hari demi hari Rey lalui dengan kesedihan dan
penyesalan yang mendalam, Rey selalu merasa bodoh dan selalu menyalahkan
dirinya karena telah membiarkan cinta tulusnya pergi jauh dan meninggalkannya. “seandainya
pada waktu itu pikiran bodoh ku tidak menguasai otakku ini, semua ini tak akan
terjadi, dan mungkin saat ini Sovia sudah menjadi milikku dan menemani
hari-hariku, betapa bodohnya aku, TUHAN MENGAPA SEMUA INI HARUS TERJADI PADAKU
!”, begitulah kalimat yang selalu ada dalam benak Rey saat ini. Di depan
sahabat-sahabatnya mungkin Rey terus menunjukan senyuman dan gelak tawanya,
namun di balik itu semua Rey masih terpukul dan selalu mencoba untuk bisa
mengebalikan hari-hari indahnya seperti biasa yang penuh keceriaan dan
kebahagiaannya, namun Rey masih belum bisa melupakan semua kejadian yang
membuatnya terpukul, Rey merasa seakan ada yang telah hilang dari dirinya.
Karena saat ini Rey
hampir memasuki semester akhir kuliahnya, walaupun keadaannya sedang tidak
baik, mau tidak mau Rey tetap harus berangkat kuliah demi targetnya agar dapat
lulus kuliah dalam waktu tiga tahun setengah. Suatu hari, masih dengan suasana
hati yang kelam, Rey terpaksa berangkat menuju kampusnya, karen pada hari itu
akan ada kuis yang sangat berpengarun dengan bagi nilai semestenya. Ketika kuis
sudah di mulai, Rey hanya diam melihat ke arah kertas kuisnya dengan tatapan
yang kosong, dan terlihat lesu tak bersemangat, menyadari kegelisahan Rey,
teman baik Rey yaitu Tamma melihat ke arah Rey yang duduk di depan Rey dan
bertanya kepada Rey dengan suara yang pelan , “Rey. Are you ok? Kenapa lo jadi
diem gini sekarang? Lo ada masalah?”, namun Rey hanya terdiam sambil menulis beberapa
jawaban di kertas kuisnya, tamma pun bimgumg dan hanya terdiam, lalu kembali
mengerjakan kuisnya.
Kelas pun telah
berakhir, dengan sangat lesu Rey menaruh lembar jawaban miliknya di meja dosen,
dan keluar meninggalkan kelasnya sendiri. Sambil berlari Tamma mengejar langkah
lemas Rey dan menepuk pundak Rey dari
belakang, “kenapa lo Rey? Kok gue liat dari tadi lo diem aja nggak kaya
biasanya?”, tanya Tamma sambil merangkul pundak Rey, Rey pun terdiam dan tidak
menjawab pertanyaan Tamma. “Kebanyakan mikir lo? Udah ikut gue sekarang” ajak
Tamma sambil menarik Rey. Merekapun tiba di bangku taman kampus tempat biasa
Tamma, Rey dan teman temannya berkumpul dan bercanda, serta tempat Rey
bercerita tendang kisah cintanya kepada teman temannya, lalu Tamma meninggalkan
Rey sebentar untuk membali minuman. Kembalinya Tamma setelah membeli minuman,
Tamma kembali bertanya pada Rey sambil memberikan minuman pada Rey, “aneh lo
Rey, tiba-tiba aja kok jadi berubah, lo ada masalah apa? Cerita sama gue, apa
jangan jangan gara-gara si Sovia dan Reska lo jadi gini”, paksa Tamma. Mendengar
nama Reska dan Sovia Reypun semakin lemas dan menundukan , meliuhat hal itu
Tamma sudah merasa kalau Rey memang sedang ada masalah dalam percintaannya, “
fine ! gue udah tau sekarang apa yeng menyebabkan lo jadi aneh gini, sekarang
lo cerita sama gue Rey, jangan diem aja, siapa tau bisa bantu lo, lo itu
sahabat gue Rey ! ” gertak Tamma. dan akhirnya dengan lemas Rey pun bercerita
kepada Tamma tentang masalah yang ia alami sehingga mmebuatnya berubah aneh
seperti saat ini.
(TO
BE CONTINUED)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar