Senin, 13 Mei 2013


When (Ketika)
Part. 7
Oleh: Rendy Prasetyo

        Perlahan waktu pun berlalu, ketika malam berganti pagi, dan bulan meninggalkan bintang bintang di angkasa, perasaan dan pikiran Rey yang hancur menjadi serpihan perlahan-lahan menyatu menjadi satu bagian, namun tidak semua serpihan itu dapat tersatukan kembali, banyak kenangan yang tak terlupakan, namun Rey tidak kembali pada keadaannya yang lalu, yang hanya terdiam dan selalu merenung, tetapi Rey terus berusaha agar bisa kembali pada jati dirinya sendiri dengan mengingat ucapan dari Tamma, “kalo lo sakit dan terluka karna cinta, ya obat lo itu juga cinta Rey”, dan Rey tidak sendiri, ia di bantu sahabat baiknya yaitu Tamma. Hari – hari Rey di isi dengan kebahagiaan serta “kegilaan” ketika pergi untuk bersenang-senang bersama sahabat karibnya, agar Rey bisa melupakan semua kejadian lalu yang telah membuatnya pataha hati. Suatu ketika, Tamma secara-tiba tiba menjauh dari Rey, Rey pun merasa bingung, apa yang telah terjadi dengan sahabatnya, Rey pun bertanya pada dirinya sendiri, “ ada apa sama Tamma tiba-tiba ngilang dan nggak tauu kemana, setiap kelas udah selesai pasti dia langsung cabut, apa ada yang sala yang gue buat sama dia ya?”. Masih bingun dengan perubahan Tamma yang secara tiba-tiba Rey pun berusaha menelpon Tamma dan mengajaknya untuk pergi “ hallo tam, ayo kluar kaya biasanya kita ngopi-ngopi, sekarang gantian deh gue yang teraktir lo?”, dan Tamma pun menjawab telpon rey dengan nada yang ragu “ehhhm, gimana ya Rey, ehhhmm gue udah ada janji sama cewe buat keluar makan malem bareng”, dan Reypun tertawa dengan senang “ hahaha wiiihhh sekarang lagi pdkt sama cewe ni ya, ini toh yang bikin lo cepet – cepet balik tiap kelas udah kelar? Anak mana tu cewe Tam?”tanya Rey di telpon. “iya rey tiap balik kelas gue pergi sama dia, dia anak 1 kampus sama kita, namanya puteri, tapi dipanggil puput, Rey”, jelas tama. “ wih selamet bro, akhirnya ada juga yang mau sama lo, dan lo siap-sap dulu sana dandan yang ganteng semprot parfum juga, biar ganteng lo, masalahnya bau lo kaya kambing bau beranak, hahaha” canda Rey. “ hahaha sial lo Rey, gue belom jadian ini malah udah di selametin, tapi amindeng, haha, yaudah gue siap siap dulu deh, eh bentar lo bilang gue apa tadi? Setan lo, haha”, Tamma pun menyaut dengan bercanda, dan merekapun  menutup telpon mereka.
                Suatu hari ketika Rey sedang menggambar di meja halaman kampusnya, tiba-tiba Tama datang dan mengejutkan Rey dengan memberi kabar padanya, “woy Rey !”, Tamma mengejutkan sambil berteriak. “damn ! bikin kaget gue lo, kecoret ni gambaran gue”, protes Rey dengan wajah kesalnya.”hahah maap maap, bencanda gue. EH lo tau pupu yang dulu gue ceritaun kan ?!”, tanya Tamma dengan senyum lebarnya. “iya iya, gebetan lo itu kan, kenapa emang?”, saut Rey. “lo tau, Gue baru jadian sama dia, dan tadi baru banget gue tembak Rey”, jelas Tamma. Reypun terkejut “ Seriusdan lo?! Congrats bro, kasian banget si puput tu, matanya kelilipan lidi sate tu pasti haha”, canda Rey. “wah songon lo! Hahaha eh iya ayo ntar malem makan di cafe biasanya, gue traktir, itun itung bagi bag rejeki sama lo supaya nggak jomblo lagi”, ajak Tama sambil bercanda. “sip deh makan enak ni ntar malem gue, dah ah gue bentar lagi masuk in, ayo kekelas”, ajak Rey sambil membereskan barang bawaannya, dan mereka pergi menuju kelas mereka. Tak di sangka malam kerika Tamma mentraktir Rey adalah malam terakhir bagi persahabatan mereka, suatu hari Rey mencoba menelpon Tamma “ ayo Tam keluar pengen ngopi gue, suntuk di rumah sendirian ?”, ajak Rey. “nggak ah Rey lagi males gue”, jawab Tamma. “kok tumben males lo Tam, akhir akhir ini kok lo g pernah bisa nongkrong mulu Tam sama gue? Gue bikin salah sama lo atao ada yang gue lakuin yang bikin lo beda Tam?gue minta maaf deh? ”, tanya Rey. “ sorry Rey, gue udah nggak bisa lagi temenan sama lo Rey, cewe gue nyuruh gue manjauh dari lo, karna lo freak Rey, kata cewe gue lo yang ada ganggu waktu gue sama cwe gue sepenuhnya, jadi gue minta maaf Rey, mulai saat ini selama gue masih sama puput gue g bisa lagi ketemu lagi, tut tut tu.......” jawab Tamma dan kemudian menutup telpon dari Rey. Rey pun terkejut mendengar kata kata-kata yang tidak disangka bisa keluar dari mulut Tamma. Keesokan harinya di kampus, Rey berpapasan dengan Tamma yang sedang menggandeng puput, dan rey mencoba menyapa Tamma, “Hey Tam?”. Namun Tamma tak merespon dan pergi melewati Rey seakan mereka tidak pernah kenal sebelumnya. Hari terus berjalan, dan sudah 3 bulan Tamma tetap berubah dan seakan tidak ingin mengenal Rey lagi karena suruhan dari puput , yaitu kekasih baru Tamma. Rey mulai menyadari dan berbicara dalam dirinya “ ternyata benar dinding persahabatan seorang pria bisa berubah dan hancur ketika telah di pukul dengan pemukul besar yaitu “harta, tahta,dan wanita”, dan walaupun Tamma sudah berubah, dia tetap sahabat terbaikku, karena dialah aku jadi bisa bangkit ketika aku patah hati”.

(TO BE CONTINUED)