When
(Ketika)
Part.
8
Oleh: Rendy Prasetyo
Kesendirian, perasaan itu kembali Rey rasakan saat ini
ketika ia harus kehilingan orang-orang terdekatnya, pertama dia harus
kehilangan kekasihnya yang telah bersamanya selama kurang lebih 4 tahun,yaitu
Tania, kemudian Rey juga harus
kehilangan wanita yang ia sukai yaitu Reska dan seorang wanita yang sangat
tulus mencintainya walaupun dengan jarak yang sangat jauh, yaitu Sovia, dan
setelah itu semua, hal yang mungkin sangat menyakitkan adalah, Rey harus
kehilangan sahabat baiknya yaitu Tamma, Rey harus kehilangan sosok sahabat
sekaligus kakak yang baik baginya karena Tamma lebih memilih wanita yang ia
sayangi di bandingkan memilih sahabatnya yaitu Rey. Karena saat ini Rey hanya
sendirian, satu-satunya kawan dekatnya adalah buku dan pena saja dimana Rey
bisa menggambar dan menulis sebuah cerita yang ia tulis sendiri, serta komputer
perpustakaan tempatnya menulis hasil ceritanya untuk di sebarkan di dunia maya,
dengan harapan agar cerita-ceritanya bisa di baca semua orang di seluruh
dunia.hari-hari Rey hanya di isi dengan elajar di kampus,pergi ke perpustakaan
untuk menulis ceritanya,pulang kerumahnya dan beribadah saja, semua terasa
membosankan, tanpa ada hal yang baru. Suatu hari di kampus, Rey sedang berjalan
menuju perpustakaan untuk memulai menulis ceritanya lagi, tidak di sengaja Rey
bertemu sahabat lamanya yaitu Tamma yang sedang bersendagurau dengan
kekasihnya, Rey pun mencoba manyapa Tamma dengan mendatanginya, “Hey tama apa
kabar lo? Lama nggak ketem…..”, sapa Rey sambil menjulurkan tangan kanannya.
Belum selesai Rey berbicara Tammapun pergi meninggalkan Rey dengan wajah
ketusnya. “sekarang Tamma udah bukan Tamma sahabat sekaligus kakak yang gue
kenal dulu, sekarang dia beda, seakan udah nggak kenal lagi sama gue”, bisik
Rey dalam hatinya dengan perasaan yang sangat sedih tergambar di wajahnya.
Hari-hari Rey terasa semakin hampa dengan tidak adanya canda dan gelak tawa
yang ia rasakan seperti sebelumnya, saat ini hanya kesunyian, kesendirian , dan
kesedihan yang dapat Rey rasakan. Rey merasakan sangat sepi dan sendiri tanpa
ada yang menemani, hari-hari Rey seakan seperti sebuah bilan tanpa pacahya
bintak=ng yang menyinari, dan bagaikan sebuah pelangi hanya dengan satu warna
saja, semua seperti kosong dan tak indah lagi.
“Ya
Allah, kenapa sekali lagi kau berikan ujian yang berat kepada hamba Ya Allah,hamba mohon kuatkan lah hati dan
iman hamba untuk melewati ujianmu, dan berikanlah hamba jalan keluar dari
segala ujianmu Ya Allah. Sesungguhnya hanya enkaulah yang mengerti is hati
hamba , karena engkaulah yang menciotakan hamba. Ya Allah Ya Tuhanku
hilangkanlah kesedihanku dan kembalikanlah kebahagiaanku seperti sedia kala. Ya
Allah Ya Tuhamku, kabulkanlah doa hambamu yang pentuh dosa dan kesalahan ini ya
allah, amin, amin, amin, Ya Robbal’alamin”, begitulah bunyi doa yang selalu Rey
panjatkan ketika ia selesai sholat. Hari hari Rey pun terus berlanjut, namun
belum ada pintu jawaban dari doa yang selalu Rey panjatkan, namun Rey tidak
pernah lelah dan berhenti untuk terus berdoa dan berharap, Rey percaya “ Tuhan
tidak akan membiarkan umatnya untuk hidup sendiri,”, dan Rey pun terus percaya,
walaupun saat ini dia sendiri , teteap ada Tuhan yang akan selalu menemani
setiap hari dan langkahnya, dan tuhan pun pasti akan mengabulkan doa-doa yang
ia inginkan.
Rey
terus melewati hari harinya hanya seorang diri, namun Rey terus meyakinkan pada
dirinya bahwa “Tuhan tidak akan membiarkan makhluk yang ia ciptakan hidup
sendirian di dunia ini, terutama manusia, karena pada dasarnya Tuhan
menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, dan tidak akan pernah bisa hidup
sendiri”, hingga suatu hari Rey pergi untuk menjalankan sholat jum’at di masjid
tempatnya bersekolah di sekolah SMA dulu. Selesai menjalan kan sholat jum’at
dan berdoa kepada Allah rey pun keluar dari masjid, dan tak disangka
sangka seperti sebuah pintuk terang
telah Tuhan bukakan untuk Rey di hadapannya, tak di sangka oleh Rey, dia
melihat 2 orang sedang duduk berbincang sambil bercanda riang gembira di tribun
samping lapangan sekolah SMAnya dulu. Dan sambil tersenyum lebar melihat
mereka, Rey pun mencoba melangkahkan kakinya untuk menghampiri tempat dimana 2
orang tersebut sedang duduk.
(TO
BE CONTINUED)