Minggu, 23 Juni 2013

When (Ketika)
Part. 8
Oleh: Rendy Prasetyo

            Kesendirian, perasaan itu kembali Rey rasakan saat ini ketika ia harus kehilingan orang-orang terdekatnya, pertama dia harus kehilangan kekasihnya yang telah bersamanya selama kurang lebih 4 tahun,yaitu Tania, kemudian  Rey juga harus kehilangan wanita yang ia sukai yaitu Reska dan seorang wanita yang sangat tulus mencintainya walaupun dengan jarak yang sangat jauh, yaitu Sovia, dan setelah itu semua, hal yang mungkin sangat menyakitkan adalah, Rey harus kehilangan sahabat baiknya yaitu Tamma, Rey harus kehilangan sosok sahabat sekaligus kakak yang baik baginya karena Tamma lebih memilih wanita yang ia sayangi di bandingkan memilih sahabatnya yaitu Rey. Karena saat ini Rey hanya sendirian, satu-satunya kawan dekatnya adalah buku dan pena saja dimana Rey bisa menggambar dan menulis sebuah cerita yang ia tulis sendiri, serta komputer perpustakaan tempatnya menulis hasil ceritanya untuk di sebarkan di dunia maya, dengan harapan agar cerita-ceritanya bisa di baca semua orang di seluruh dunia.hari-hari Rey hanya di isi dengan elajar di kampus,pergi ke perpustakaan untuk menulis ceritanya,pulang kerumahnya dan beribadah saja, semua terasa membosankan, tanpa ada hal yang baru. Suatu hari di kampus, Rey sedang berjalan menuju perpustakaan untuk memulai menulis ceritanya lagi, tidak di sengaja Rey bertemu sahabat lamanya yaitu Tamma yang sedang bersendagurau dengan kekasihnya, Rey pun mencoba manyapa Tamma dengan mendatanginya, “Hey tama apa kabar lo? Lama nggak ketem…..”, sapa Rey sambil menjulurkan tangan kanannya. Belum selesai Rey berbicara Tammapun pergi meninggalkan Rey dengan wajah ketusnya. “sekarang Tamma udah bukan Tamma sahabat sekaligus kakak yang gue kenal dulu, sekarang dia beda, seakan udah nggak kenal lagi sama gue”, bisik Rey dalam hatinya dengan perasaan yang sangat sedih tergambar di wajahnya. Hari-hari Rey terasa semakin hampa dengan tidak adanya canda dan gelak tawa yang ia rasakan seperti sebelumnya, saat ini hanya kesunyian, kesendirian , dan kesedihan yang dapat Rey rasakan. Rey merasakan sangat sepi dan sendiri tanpa ada yang menemani, hari-hari Rey seakan seperti sebuah bilan tanpa pacahya bintak=ng yang menyinari, dan bagaikan sebuah pelangi hanya dengan satu warna saja, semua seperti kosong dan tak indah lagi.
            “Ya Allah, kenapa sekali lagi kau berikan ujian yang berat kepada hamba  Ya Allah,hamba mohon kuatkan lah hati dan iman hamba untuk melewati ujianmu, dan berikanlah hamba jalan keluar dari segala ujianmu Ya Allah. Sesungguhnya hanya enkaulah yang mengerti is hati hamba , karena engkaulah yang menciotakan hamba. Ya Allah Ya Tuhanku hilangkanlah kesedihanku dan kembalikanlah kebahagiaanku seperti sedia kala. Ya Allah Ya Tuhamku, kabulkanlah doa hambamu yang pentuh dosa dan kesalahan ini ya allah, amin, amin, amin, Ya Robbal’alamin”, begitulah bunyi doa yang selalu Rey panjatkan ketika ia selesai sholat. Hari hari Rey pun terus berlanjut, namun belum ada pintu jawaban dari doa yang selalu Rey panjatkan, namun Rey tidak pernah lelah dan berhenti untuk terus berdoa dan berharap, Rey percaya “ Tuhan tidak akan membiarkan umatnya untuk hidup sendiri,”, dan Rey pun terus percaya, walaupun saat ini dia sendiri , teteap ada Tuhan yang akan selalu menemani setiap hari dan langkahnya, dan tuhan pun pasti akan mengabulkan doa-doa yang ia inginkan.
            Rey terus melewati hari harinya hanya seorang diri, namun Rey terus meyakinkan pada dirinya bahwa “Tuhan tidak akan membiarkan makhluk yang ia ciptakan hidup sendirian di dunia ini, terutama manusia, karena pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, dan tidak akan pernah bisa hidup sendiri”, hingga suatu hari Rey pergi untuk menjalankan sholat jum’at di masjid tempatnya bersekolah di sekolah SMA dulu. Selesai menjalan kan sholat jum’at dan berdoa kepada Allah rey pun keluar dari masjid, dan tak disangka sangka  seperti sebuah pintuk terang telah Tuhan bukakan untuk Rey di hadapannya, tak di sangka oleh Rey, dia melihat 2 orang sedang duduk berbincang sambil bercanda riang gembira di tribun samping lapangan sekolah SMAnya dulu. Dan sambil tersenyum lebar melihat mereka, Rey pun mencoba melangkahkan kakinya untuk menghampiri tempat dimana 2 orang tersebut sedang duduk.
(TO BE CONTINUED)